Konservasi Rusa Sambar Menghidupkan Edukasi Lingkungan dan Pelestarian Hayati Kalimantan
Tim Kehati
•
30 May 2026
•
6x dibaca
Keanekaragaman hayati merupakan salah satu kekayaan alam terbesar yang dimiliki Kalimantan. Namun, berbagai tantangan seperti perubahan habitat, tekanan aktivitas manusia, dan berkurangnya ruang hidup satwa menjadikan upaya konservasi sebagai kebutuhan yang semakin penting. Berangkat dari kesadaran tersebut, PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Syamsudin Noor menjalankan program konservasi berbasis community development yang berfokus pada pelestarian Rusa Sambar (Rusa unicolor) dan tanaman endemik Kalimantan.
Program yang dimulai pada tahun 2019 ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Balai Dalkarhutla), yang sebelumnya dikenal sebagai Balai Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Hutan (BPSILHK). Meskipun lembaga mitra mengalami perubahan nomenklatur dan struktur organisasi pada tahun 2025, sinergi dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati tetap berjalan hingga saat ini.
Perjalanan konservasi tersebut menunjukkan hasil yang menggembirakan. Bermula dari pelepasliaran dua ekor Rusa Sambar pada tahun 2019, populasi satwa endemik Kalimantan tersebut terus berkembang melalui reproduksi alami. Hingga tahun 2026, jumlah rusa yang berada di kawasan konservasi telah mencapai sekitar 20 ekor. Pertumbuhan populasi ini menjadi indikator keberhasilan pengelolaan kawasan yang dilakukan secara berkelanjutan dan terencana.
Tidak hanya berfokus pada satwa, program ini juga mendorong pelestarian berbagai tanaman endemik Kalimantan yang ditanam dan dipelihara di kawasan konservasi. Keberadaan flora lokal tersebut memperkaya ekosistem sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat kekayaan hayati daerahnya sendiri.
Seiring perkembangannya, kawasan konservasi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelestarian satwa dan tumbuhan, tetapi juga tumbuh menjadi ruang edukasi lingkungan yang terbuka bagi masyarakat. Konsep yang dikembangkan menggabungkan unsur konservasi, pendidikan, dan rekreasi atau dikenal sebagai kawasan edutainment berbasis lingkungan.
Salah satu program unggulannya adalah “Rabu Mengajar”, sebuah kegiatan edukasi yang rutin dilaksanakan setiap hari Rabu. Melalui program ini, kawasan konservasi menerima kunjungan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi dari berbagai wilayah di Kalimantan. Para peserta dapat belajar secara langsung mengenai keanekaragaman hayati, fungsi ekosistem, pentingnya konservasi satwa, hingga upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan di kawasan tersebut.
Kegiatan ini diselenggarakan tanpa biaya sehingga memberikan akses belajar yang lebih luas bagi masyarakat. Pengunjung tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman langsung berinteraksi dengan lingkungan konservasi dan mengenal berbagai spesies endemik Kalimantan. Selain Rusa Sambar, kawasan ini juga menjadi habitat konservasi bagi Sempidan Biru (Lophura ignita), salah satu jenis unggas endemik Kalimantan yang memiliki nilai konservasi tinggi.
Dampak program juga dirasakan oleh kalangan mahasiswa yang terlibat sebagai peserta magang. Mereka berperan sebagai pendamping dan pemandu edukasi bagi para pengunjung sekaligus memperoleh pengalaman lapangan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Keterlibatan tersebut menjadi sarana peningkatan kapasitas, memperluas wawasan mengenai biodiversitas, serta mendukung pengembangan kompetensi yang relevan dengan dunia kerja dan akademik.
Melalui pendekatan yang mengintegrasikan konservasi dan pemberdayaan masyarakat, PT Pertamina Patra Niaga AFT Syamsudin Noor membuktikan bahwa upaya pelestarian keanekaragaman hayati dapat memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar menjaga populasi satwa dan tumbuhan. Program ini telah berkembang menjadi ruang belajar bersama yang menumbuhkan kesadaran lingkungan, memperkuat nilai konservasi, serta menginspirasi generasi muda untuk turut berperan dalam menjaga kekayaan hayati Kalimantan bagi masa depan.